Terjemahan kitab safinatun najah (Fardhu Wudhu)

Terjemahan kitab safinatun najah (Fardhu Wudhu)

Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Kalau pada artikel sebelumnya saya sudah memposting terjemahan pasal 5 kitab safinatun najah yaitu tentang syarat istinja, maka di artikel kali ini saya akan memposting isi dan terjemahan kitab safinatun najah pasal 6 yaitu tentang Fardhu wudhu.
Baiklah langsung saja kita ke inti dari kontent ini, selamat membaca sahabat blogger.


۞ Fardhu Wudhu ۞

(فَصْلٌ)
فُرُوْضُ الْوُضُوْءِ سِتَّةٌ : اَلْاَوَّلُ النِّيَّةُ ، الثَّانِى غَسْلُ الْوَجْهِ ، الثَّالِثُ غَسْلُ الْيَدَيْنِ مَعَ الْمِرْفَقَيْنِ ، الرَّبِعُ مَسْحُ شَيْءٍ مِنَ الرَّأْسِ ، الْخَامِسُ غَسْلُ الرِّجْلَيْنِ مَعَ الْكَعْبَيْنِ ، السَّادِسُ التَّرْتِيْبُ.


(Fashlun)
Furuudhu Al-Wudhuui Sittatun : Al-Awwalu Anniyyatu , Ats-Tsaani Ghoslu Al-Wajhi , Ats-Tsaalitsu Ghoslu Al-Yadaini Ma'a Al-Mirfaqoini , Ar-Roobi'u Mashu Syai'in Min Ar-Ro'si , Al-Khoomisu Ghoslu Ar-Rijlaini Ma'a Al-Ka'baini , As-Saadisu At-Tartiibu .

Fardhu-fardhu Wudhu ada 6, yaitu : Yang pertama Niat , yang kedua membasuh wajah ,  yang  ketiga membasuh 2 tangan beserta 2 sikut ,  yang  keempat menyapu sebagian dari kepala ,  yang  kelima membasuh 2 kaki beserta 2 mata kaki ,  yang  keenam tertib.

Rukun wudhu ada enam, yaitu:

1. Niat
Disetiap ibadah, kita diharuskan memulai dengan niat, begitu pula wudhu, wudhu’ juga harus dimulai dengan niat.
Sebagaimana sabda Nabi yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam,

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ
“Tidak diterima sholat orang yang berhadats sampai ia berwudhu”.
[ HR. Bukhori no. 135, Muslim no. 225 ]

"Sesungguhnya segala amal perbuatan itu hendaklah dengan niat" (HR Bukhari dan Muslim)

Al-Mawardi mendifinisikan niat dengan qasdu syai’in muqtarinan bifi’lihi. Yaitu menyengaja sesuatu berbarengan dengan pelaksanaannya. Oleh karena itu ber-niat dalam wudhu harus dibarengkan dengan pelaksanaannya yaitu ketika membasuh muka. Karena membasuh muka merupakan hal pertama yang dilakukan dalam berwudhu. Seperti halnya niat sholat yang harus berbarengan dengan pengucapan takbiratul ihram (Allahu Akbar).

Demikian juga Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada kita dalam Al-qur'an.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِينَ اٰمَنُوْٓا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki”. (QS Al Maidah [5] : 6).

Dan sebagaimana lazim niat wudhu’ orang-orang islam diseluruh dunia, inilah bacaan niat ketika hendak memulai wudhu’ :

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الْأَصْغَرِ لِلّٰهِ تَعَالَى


2. Membasuh Wajah
Fardhu yang kedua adalah membasuh wajah, adapun wajah mempunyai batasan, yaitu dari pangkal kening hingga ujung dagu, dan diantara 2 anak telinga. Maka batasan itu harus terkena air saat kita membasuh wajah kita.
Membasuh muka seluruhnya dari batas rambut sampai ke dagu dan dari batas telinga kanan sampai ke telinga kiri.

Allah SWT berfirman:
”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai dengan siku,” Q.S al-Maidah, 6

Jika seseorang memiliki jenggot yang tebal maka cukup membasuh luarnya saja,  sesuai dengan hadist Rasulullah saw bahwa beliau berwudhu maka beliau mengambil seciduk air lalu membasuh mukanya (HR Bukhari).


3. Membasuh kedua tangan sampai ke siku.
Fardhu  yang  ketiga adalah membasuh kedua tangan kita dimulai dari ujung jari sampai ujung siku, atau sebaliknya tidak masalah,  yang  terpenting adalah tidak ada sesuatu apapun  yang  menghalangi air masuk ke kulit.


4. mengusap sebagian kepala.
Fardhu  yang  ke empat adalah mengusapkan air kekepala, diperbolehkan hanya mengusap Rambut, asalkan rambut Ɣƍ diusap tidak melebih dari bagian kepala, seperti ujung rambut panjang pada wanita.

Sesuai dengan hadist Rasulullah Saw: ”bahwa Rasulallah Saw berwudhu, kemudian mengusap jambul dan atas serbannya” (HR.Muslim)

5. membasuh kaki hingga mata kaki.
Anggota selanjutnya adalah kaki, diwajibkan mengalirkan air dari ujung jari kaki sampai mata kaki atau sebaliknya.


6. tertib
Dan  yang  terakhir adalah melakukan 5 fardhu-fardhu diatas dgn tertib, tertib disini adalah melakukan fardhu dgn fadhu  yang  lain secara berurutan.

Tertib artinya melakukannya secara berurutan seperti niat dahulu baru membasuh wajah, tidak boleh sebaliknya.

Maka, jika telah melakukan fardhu-fardhu  yang  disebutkan diatas, maka sah lah wudhu kita, dan kita boleh melakukan sholat, memegang Al-Quran, atau ibadah-ibadah lain yang diharuskan atau disunnahkan berwudhu sebelumnya.

Adapun berkumur-kumur, membasuh hidung, dan lainnya termasuk sunnah wudhu akan tetapi alangkah baiknya kita melakukan sunnah-sunnahnya, sehingga wudhu kita pun menjadi sempurna.

Penyebab Doa Tidak Terjawab

Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. 

Berdoa

 

Bagi setiap orang terkadang dia merasa dirinya telah lama berdo'a kepada allah Swt namun perhomonan yang dia minta belum dikabulkan oleh allah Swt,
Padahal allah Swt menjanjikan di dalam Al-Quran karim.
"Ud'unii astajib lakum"
Berdoalah kepadaku niscaya aku kabulkan doa kalian.

Hal tersebut mungkin doa yang kita panjatkan kepada allah Swt tidak ada rasa khusyu' dan takut kepada allah Swt, dan dari beberapa aspek lainnya yang menyebabkan doa kita tidak terkabul.

Diantaranya yang akan saya bahas pada artikel kali ini yang berjudul "penyebab doa tidak terjawab"

Berikut merupakan penyebab doa tak terjawab:


1.) Hati yang mati

Hati yang mati merupakan salah satu penyebab doa seseorang tak terkabul, mengapa demikian?? Sebab dari hati yang mati tidak ada koneksi yang nyambung dan getaran tidak sampai kepada allah Swt , sehingga tidak menimbulkan gejala atas doa yang dipanjatkan.


Lantas apa penyebab hati itu menjadi mati?


•pertama, kita mengenal kepada allah Swt , tetapi hak nya untuk disembah dan hak kita untuk menyembahnya tidak kita laksanakan dengan benar.

Seringkali kita meninggalkan sholat 5 waktu, puasa ramadhan, dll. Padahal kita mengenal betul allah swt yang telah menciptakan kita tetapi kita tidak melaksanakan ritual ibadah kepadanya.


Bagaimana hati kita tidak mati, sedangkan haknya dan kewajiban kita untuk beribadah saja tidak kita laksanakan , oleh karenanya hal ini menyebabkan hati kita menjadi mati sehingga doa kita tidak terjawab.


•Kedua, kita baca Al-Qur'an tetapi kita tidak mengamalkannya,

Seringkali kita membaca Al-Quran tetapi isi dari Al-Qur'an tersebut tidak kita amalkan dalam kehidupan kita.

Ini merupakan penyebab hati kita menjadi mati sehingga doa tak terkabulkan oleh allah Swt.


•Ketiga, kita mengaku sebagai umatnya nabi muhammad Saw tetapi sunnahnya tidak kita praktekan didalam kehidupan.


•Keempat, kita makan nikmat dari allah Swt tetapi tidak kita mensyukuri.

Seringkali kita dikaruniakan nikmat dari allah Swt yang begitu besar, akan tetapi kita tidak pernah bersyukur atas nikmat tersebut.


•Kelima, kita mengetahui kematian merupakan hal yang pasti , tetapi kita tidak pernah menyiapkan diri kita untuk menghadapi kematian tersebut.


•Keenam, kita menginginkan untuk selamat dari siksa api neraka, tetapi perbuatan kita malah menyeret diri kita ke neraka.

(Na'udzubillah min dzalik)


•Ketujuh, kita ingin masuk surga akan tetapi kita tidak melaksanakan amal ibadah yang bisa menghantarkan kita ke surga.


•Kedelapan, kita melihat orang yang meninggal dunia tetapi kita tidak bisa jadikan pelajaran dan membuat kita sadar akan kematian tersebut.


Itulah yang menyebabkan hati kita menjadi mati dan dari hati yang mati menyebabkan doa kita tidak terkabul oleh Allah Swt.

Sedikit tips solusi agar doa kita terkabul :

1.) perbaiki bathin kita jauhkan diri dari hal-hal yang bisa menyebkan hati kita mati , seperti yang sudah saya paparkan di atas.


2.) berdoa kepada Allah Swt dengan rasa khusyu' dan takut serta yakin bahwa doa kita akan dikabulkan Allah Swt.


3.) Berdoa kepada Allah Swt pada waktu-waktu mustajab.

Seperti disepertiga malam ketika tahajud, pada hari jumat, dan pada bulan ramadhan, pada malam lailatul qodr, dll.


4.) Berdoa kepada Allah Swt dalam situasi keadaan yang mustajab.

Seperti ketika berjihad di jalan allah, ketika turun hujan lebat, antara adzan dan iqomah, antara dua khutbah pada sholat jum'at, dll.


5.) Berdoa kepada Allah Swt dengan menghadap kiblat.


6.) Berdoa kepada Allah Swt dari lubuk hati.

Sebab doa dari lubuk hati lebih cepat dikabulkan dari pada dengan lisan yang fasih.


7.) Berdoalah dengan diawali berdzikir kepada Allah Swt.


8.) Berdoalah kepada Allah Swt dengan menyebut nama-namanya yang baik dari asma'ul husna.


9.) ukur dan sesuaikan doa dengan keadaan.



Demikian artikel kali ini, semoga bermanfaat untuk sahabat blogger semua..


Wassalaamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa barakatuh
Terjemahan kitab safinatun najah (Syarat Istinja)

Terjemahan kitab safinatun najah (Syarat Istinja)

Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Kalau pada artikel sebelumnya saya sudah memposting terjemahan pasal 4 kitab safinatun najah yaitu tentang makna tanda-tanda baligh, maka di artikel kali ini saya akan memposting isi dan terjemahan kitab safinatun najah pasal 5 yaitu tentang Syarat Istinja'.
Baiklah langsung saja kita ke inti dari kontent ini, selamat membaca sahabat blogger.




۞ Syarat Istinja ۞

(فَصْلٌ)
شُرُوْطُ إِجْزَاءِالحَجَرِ ثَمَانِيَةٌ: أَنْ يَكُوْنَ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ ، وَأَنْ يُنَقَّى الْمَحَلُّ ، وَأَنْ لَا يَجِفَّ النَّجْسُ ، وَلاَ يَنْتَقِلَ ، وَلَا يَطْرَأَ عَلَيْهِ اٰخَرُ، وَلَا يُجَاوِزَ صَفْحَتَهُ وَحَشَفَتَهُ ، وَلَا يُصِيْبَهُ مَاءٌ ، وَأَنْ تَكُوْنَ الْأَحْجَارُ طَاهِرَةً.

 "Syarat Istinja"

 Syuruuthu ijza'i Tsamaaniyatun : An Yakuuna Bitsalaatsati Ahjaarin , Wa An Yunaqqo Al-Mahallu , Wa An Laa Yajiffa An-Najsu, Wa laa Yantaqila , Wa laa Yathroa 'Alaihi Aakhoru , Wa laa Yujaawiza Shofhatahu Wahasyafatahu , Wa laa Yushiibahu Maaun , Wa An Takuuna Al-Ahjaaru Thoohirotan . 

Syarat-syarat Istinja dengan batu terbagi menjadi delapan, yaitu :
١.) Orang yg berisitinja itu menggunakan 3 batu.
٢.) Ia membersihkan tempat keluarnya najis.
٣.) Tidak kering najisnya itu.
٤.) Tidak berpindah najisnya itu .
٥.) Tidak datang atasnya oleh najis yg lain.
٦.) Jangan melampaui najisnya itu akan shofhahnya dan hasyafahnya.
٧.) Jangan mengenai najis itu oleh air , dan
٨.) Batunya itu suci.

 

Baca Juga :
Syarat boleh 'sahnya' bersuci dari kencing atau buang air besar menggunakan batu untuk beristinja terbagi menjadi delapan, yaitu:

1. Menggunakan tiga batu.
2. Masing-masing dari ketiga batu tersebut sudah bisa mensucikan/membersihkan tempat keluar najis dengan batu tersebut (dubur atau pun qubul).
3. Najis belum kering. Kalau sudah kering maka harus menggunakan air.
4. Najis tersebut belum berpindah dari tempat keluarnya. kalau sudah pindah harus menggunakan air.
5. Tempat istinja tersebut tidak terkena benda yang lain sekalipun tidak najis, jadi tidak boleh bercampur dengan lainnya, kalau sudah bercampur dengan yang lain maka harus menggunakan air.
6. Najis tersebut tidak berpindah tempat istinja (lubang kemaluan belakang dan kepala kemaluan depan). Tidak melampaui "hasyafah" (bila buang air kecil) dan tidak melampaui "shofhah" (bila buang air besar). Kalau sudah melampui dua batas itu maka harus menggunakan air.
7. Najis tersebut tidak terkena air، kalau terkena air maka harus diteruskan menggunakan air.
8. Batu tersebut harus suci.

 

Penjelasan

Yang dimaksud dengan batu disini bukanlah batu yang dalam pengertian umum kita, akan tetapi segala sesuatu yang dapat mencabut/membersihkan kotoran dengan bersih, seperti kayu, kain, tissue atau lainnya.

ada beberapa syarat yang tambahan dalam kitab fiqih besar lainnya, yaitu :
١.) Batu yang digunakan tidak boleh yang musta'mal (sudah pernah digunakan).
٢.) Batu yang digunakan tidaklah sesuatu yang dihormati.
٣.) Istinja' harus dengan sesuatu benda padat yang dapat mencabut kotoran dari tempatnya.


Demikian artikel pasal 5 kitab safinatun najah tentang Syarat istinja menggunakan batu.
Semoga dapat bermanfaat untuk sahabat blogger semua, Aamiin.

Wassalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Terjemahan kitab safinatun najah (tanda-tanda baligh)

Terjemahan kitab safinatun najah (tanda-tanda baligh)

Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Kalau pada artikel sebelumnya saya sudah memposting terjemahan pasal 3 kitab safinatun najah yaitu tentang makna syahadat, maka di artikel kali ini saya akan memposting isi dan terjemahan kitab safinatun najah pasal 4 yaitu tentang tanda-tanda baligh.
Baiklah langsung saja kita ke inti dari kontent ini, selamat membaca sahabat blogger.



۞ Tanda-tanda Baligh ۞

(فَصْلٌ ) عَلَامَاتُ الْبُلُوْغِ ثَلَاثٌ : تَمَامُ خَمْسَ عَشَرَةٌ سَنَةً فِيْ الذَّكَرِ ِوَالْأُنْثَى ، وَالْإِحْتِلَامُ فِيْ الذَّكَرِ والْأُنْثَى لِتِسْعِ سِنِيْنَ ، وَالْحَيْضُ فِيْ الْأُنْثَى لِتِسْعِ سِنِيْنَ .



Tanda-tanda Baligh

'Alaamaatul Buluughi Tsalaatsun : Tamaamu Khomsa 'Asyaro Sanatan Fidzdzakari Wal Untsaa , Wal Ihtilaamu Fidzdzakari Wal Untsaa Litis'i Siniina , Wal Haidhu Fil Untsaa Litis'i Siniina


Tanda-tanda Baligh ada 3, yaitu :
•Sempurna umurnya 15 tahun pada laki-laki dan perempuan. •mimpi pada laki-laki dan perempuan bagi umur 9 tahun , dan
•dapat haid pada perempuan bagi umur 9 tahun.



Adapun tanda-tanda baligh (mencapai usia remaja) seseorang ada tiga, yaitu:

1.) telah berumur 15 (lima belas) tahun bagi seorang laki-laki dan perempuan.
2. Bermimpi (junub) atau keluarnya air sperma terhadap laki-laki dan perempuan ketika melewati sembilan tahun dengan hitungan tanggal Qomariyyah (Hijriyah).
3. Keluarnya darah haidh sesudah berumur sembilan tahun dengan hitungan tanggal Qomariyyah (Hijriyah).


Demikian artikel pasal 4 kitab safinatun najah tentang Tanda-tanda baligh.
Semoga dapat bermanfaat untuk sahabat blogger semua, Aamiin.

Wassalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Terjemahan kitab safinatun najah (makna syahadat)

Terjemahan kitab safinatun najah (makna syahadat)

Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Kalau pada artikel sebelumnya saya sudah memposting terjemahan pasal 2 kitab safinatun najah yaitu tentang rukun iman, maka di artikel kali ini saya akan memposting isi dan terjemahan kitab safinatun najah pasal 3 yaitu makna arti dari syahadat.
Baiklah langsung saja kita ke inti dari kontent ini, selamat membaca sahabat blogger.



۞ Arti Syahadat ۞


(فَصْلٌ ) وَمَعْنٰى لَاإِلَهَ إِلّااللّٰهُ : لَامَعْبُوْدَ بِحَقٍّ فِي الْوُجُوْدِ إِلَّا اللّٰهُ .



Syahadat

 Wama'naa Laa Ilaha Illallaahu : Laa Ma'buda Bihaqqin Fil Wujuudi Illallaahu .

Dan makna kalimat Laa Ilaha Illallahu yaitu tidak ada yang patut disembah dengan sebenar-benarnya pada keadaan kecuali Allah SWT .



Yang dimaksud dengan ucapan "Laa ilaha illah", adalah menyatakan dan meyakini bahwa tiada yang wajib disembah dengan haq (Sebenar-benarnya) di alam semesta ini kecuali hanya Allah SWT semata.


Demikian artikel pasal 3 kitab safinatun najah tentang makna arti syahadat.
Semoga dapat bermanfaat untuk sahabat blogger semua, Aamiin.

Wassalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.